Archive for October, 2006

kusuka katakatamu dipukul 9.00 pm

Thursday, October 26th, 2006

kusuka kata-katamu dipukul 9.00 pm
saat angin malam mulai malas bergurau
dan helai demi helai napas menutupiku dengan
sebentuk jengah
disaat ku berpikir tentang yang ada dan yang tidak
dan pintu perak tempat kumenanam benih benih angan dan khayalanku
perlahan menutup

kusuka kata-katamu dipukul 9.00 pm
tentang kau mengeja namaku dalam arti hidupmu…
dan garis garis kecil diantara kita terlihat semakin menipis
seiring waktu
tentang kau dan aku…
dan sebatang kembang yang kita genggam berdua
semakin mekar ke arah mentari…

kusuka kata-katamu dipukul 9.00 pm
yang kausematkan sebelum kutarik selimut mimpi

"makanya kita bersama…"

ketulusan

Thursday, October 26th, 2006

tulus katamu dalam tanya
cinta katamu dalam tawa
kupayungi kau didinginnya malam turun hujan
namun kau tetap saja bertanya
apa itu tulus dan cinta…?
  siapakah yang sebenarnya bertanya…?
  lahirlah kebingungan diantara 2 jiwa

ada selembar daun diantara musik dan matahari
dan ia menertawaiku padahal langkahnya lambat

kupayungi kau didinginnya malam turun hujan
tapi, tetap saja gerimis mengguyurku
dan menyeretku pada arus deras
yang bernama kepedihan

*begitu sulitkah kau mengerti…?*

kapal ramadhan

Thursday, October 26th, 2006

hembusan nafas malaikat menyuburkan pohon ketakwaan
dalam kasih sayang seribu bulan
dimana kaki menapak disitu aneka bunga
aneka warna
aneka segala, tumbuh bersama
dimana jemari menyentuh disitu keharuman
kebahagiaan
kesejahteraan, mekar bersama

tatapan sendu insan insan diujung batas
melambai pada kapal yang bertuliskan ramadhan
serta isak tangis ikhlas yang menetes dipelabuhan
menjadi lagu baru dan melekat erat disanubariku-sanubarimu

potong potong kuku kita, cuci cuci pakaian kita dipenghujung ini
benah benah rumah kita, sapu sapu halaman kita dipenghujung ini
hujan adalah tangis bahagia gemuruh petir adalah kembang api
gunung runtuh oleh kekecewaan yang ikhlas
lautan surut oleh kekeringan yang ridha

tak seperti ikrar yang lidah lidah mereka hambarkan
tak seperti janji yang tangan tangan mereka paksakan
(janji) sang pemilik kita adalah nyata dan pasti adanya
dan kita masih saja (dengan tatapan sendu) melambai pada kapal itu
lalu niscaya tak berapa lama setelah angin kedamaian menerpa lama muka mereka
tersungkurlah mereka dalam keikhlasan dan meminta kemurahan

lalu aku masih saja meminta dari ’seandainya’
mengharap nanti jika kapal itu kembali…
aku masih rela menunggu disini…

ramadhanku.andai.aku.mati.aku.mau.berada.di.surga

Monday, October 9th, 2006

ramadhanku..
andai nanti aku mati…
aku mau berada disurga…

dimana bidadari terduduk dipangkuan
  menciumi telapak tanganku penuh kemesraan
  dan tatkala kuceritakan padanya satu cerita
  usang yang tak lagi dipandang bumi,
  niscaya dia tertawa, dan memintaku tuk
  menceritakan kisah lain lagi sampai ia terlelap
  lalu nanti manakala aku merasa dahaga, sekejap
  muncullah mereka, yang tiada pernah ada di mimpiku
  sekalipun…

dimana bunga bunga berkepala putih itu
  menerbangkan serbuknya mengelilingi wajahku
  ada malaikat berjalan dikiri dan dikananku
  mengajak bermain dan bernyanyi…
  dan kala aku berpuisi ditepi telaga madu,
  gunung dan rerumputan menyemangatiku, sementara
  angin dan dedaunan menentramkanku
  dan aku…
  adalah sebaikbaiknya penyair…

dimana pelangi menebarkan sayap keindahannya
  merpati yang tegak berdiri disarangnya…
  camar yang tertawa menantang panasnya…
  tiada lagi ada benih benih kemunafikan, yang ada
  hanyalah tanaman kejujuran, yang emas mengkilat
  berbaris dilapangan hijau nanluas,
  dan aku…
  tak perlu lagi berdusta demi kenikmatan belaka…

ramadhanku…
andai nanti aku mati…
aku mau berada disurga bersamamu…
jangan sengaja menunda jika benar adanya
mumpung kau masih bersamaku…