harap…
Aku pernah berharap waktu berhenti mengalir saat kita
bahagia. Untuk kunikmati bagaimana indahnya dunia saat bersamamu. Saat
memandang senyummu yang cantik, aku tak pernah berpikir akan seceria ini. Kau
menyambutku dalam kesendirianmu yang membosankan. Dan aku mencarimu seharian
demi menunjukkan padamu mana warna-warna pelangi yang redup sekejap lalu lenyap
seperti asap. Lalu, kita berjalan bersama dalam cinta yang ragu.
Aku menganggapmu adalah aku. Aku merasa kita satu.
Kuberpikir apakah kau nyata atau dirimu hanya kabut yang membutakan mataku atau
aku sedang terbang di negeri 1000 mimpi terindah? Kau membuatku “hidup”. Dalam tidur aku menemuimu, pun terjaga ku
selalu didekatmu.
Namun, kau hilang dalam diam. Membawa hatiku jauh. Aku buta
dan lumpuh. Aku ingin meneriaki cerahnya matahari, aku benci dengan warna
sinarnya. Seakan-akan mereka mencaciku. Aku ingin membunuh malam, aku benci
dengan kenyamanannya. Seakan-akan mereka membuka luka-lukaku. Aku harap ini
memang hanya mimpi. Mimpi buruk dimana saat nanti aku terjaga, aku belum pernah
mengenalmu. Aku belum pernah menggenggam tanganmu, dan senyummu belum ada
menguasaiku.
Namun luka ini benar-benar dalam. Dan aku menangis tanpa
seorangpun tau. Aku, tanpamu, seperti bukan diriku. Hari-hari terasa panjang
dan membosankan. Semua berlalu begitu saja tanpa permisi. Dalam malam aku dan
sahabat kesendirianku masih saja memikirkanmu. Aku masih belum merelakan kau pergi
ke tempat pelabuhan hatimu yang lalu. Sesaat aku membencimu dengan kuat. Namun
kesendirianku menampar pikiranku yang mulai menghitam…
“apa yang dapat kau lakukan disaat buah hatimu ingin
bahagia? Apa sejatinya cinta selain melihat kekasihmu tersenyum indah lagi? Ego
yang menyetir pikiranmu telah melumpuhkanmu dalam perjalanan hidup! Nafsu yang
mencambukimu telah membutakanmu dalam pelajaran makna. Apa yang dapat kau
lakukan demi sebentuk ketulusan? Saat kau mulai berharap untuk ‘menerima’
pengorbananmu yang demikian besar. Dan apa kau mulai merasa itu semua mahal
sehingga dia harus melunasi? Apa yang harus dilunasi sementara kau sendiri
memberi tanpa diminta? Dan sekarang, apa yang harus kau sesali? Memberi dengan
ketulusan? Atau melepasnya untuk bahagia?”
Perlu waktu lama untuk menyadari
bahwa mencintaimu bukan berarti memilikimu seutuhnya. Aku belajar ikhlas. Tapi
aku masih menangis saat kau terasa begitu dekat. Namun aku tak mengharap
apa-apa lagi. Tak mengharap apa-apa lagi…
April 15th, 2008 at 11:25 pm
kereeeennnn
brasa ditampar baca ini..
hehee..Lebay bgt c gw..
April 18th, 2008 at 7:18 am
terima kasih


jrng nih ada yg mau baca panjang2
seklai lagi makasih